oleh

Peranan Guru dalam Mencetak Siswa Berkarakter di Era Industry 4.0

-Artikel-75 Dibaca

Oleh : Lia Mardiyanti, M.Pd.I

Lecture : IAI Al-Azhaar Lubuklinggau – Teacher : SDIQ Ar-Risalah Lubuklinggau

DiGugu dan Ditiru itulah sosok seorang guru. Guru diibaratkan seorang “selebritis” bagaimana tidak guru adalah seorang panutan yang apapun dilakukan oleh guru akan diikuti dan ditiru oleh peserta didiknya. Maka dari itulah generasi penerus saat ini membutuhkan sosok panutan yang akan membentuk karakter peserta didik. Saat ini dunia dihadapka dengan perubahan dan gejolak teknologi yang semakin marak. Terlepas dari semua teknologi yang ada, sektor pendidikan lah yang sangat di khawatirkan dalam teknologi digital saat ini. Bagaimana tidak yang menjadi ketakutan kita adalah “Bobroknya” Ruh Pendidikan karena terkikis oleh peliknya teknologi yang semakin canggih ini. Namun, Guru di era revolusi industri 4.0 perannya tak akan tergantikan oleh teknologi. Peran guru tak tergantikan karena guru adalah pembentuk karakter anak didik melalui pendidikan budi pekerti, toleransi, dan nilai kebaikan. Namun demikian, guru perlu mengubah cara mengajar agar lebih menyenangkan dan menarik.

Lantas apa sih Era Industry 4.0? Istilah Industry 4.0 pertama kali digemakan pada Hannover Fair, 4-8 April 2011. Istilah ini digunakan oleh pemerintah Jerman untuk memajukan bidang industri ke tingkat selanjutnya, dengan bantuan teknologi. Sejak tahun 2011, kita telah memasuki Industry 4.0, yang ditandai meningkatnya konektivitas, interaksi, dan batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Maka dari itu, Di era revolusi industri 4.0 muncul teknologi baru yang mengakibatkan perubahan luar biasa di semua bidang tidak terkecuali pendidikan. Apabila fungsi guru hanya sebatas transfer ilmu kepada siswa atau hanya sekedar mengajar saja di dalam kelas, maka perannya akan tergantikan oleh teknologi di era revolusi industri 4.0 ini. Teknologi terus berubah, menjadi lebih cepat atau lebih murah namun saat ini masih banyak guru yang resisten terhadap perkembangan teknologi sekalipun dunia pendidikan telah bertransformasi. Padahal saat ini justru dibutuhkan guru-guru terbaik yang memahami dinamika kelas dan memanfaatkan teknologi guna mengedukasi siswa. Teknologi akan membuat guru lebih percaya diri dan lebih mudah dalam mengajar siswanya sehingga mampu mengubah ruang kelas menjadi ruang belajar yang kreatif, inovatif dan menyenangkan.

Dunia pendidikan saat ini juga dituntut mampu membekali para peserta didik dengan keterampilan abad 21. Keterampilan ini adalah keterampilan peserta didik yang mampu untuk berfikir kritis dan memecahkan masalah, kreatif dan inovatif, ketrampilan berkomunikasi dan kolaborasi. Selain itu keterampilan mencari, mengelola dan menyampaikan informasi serta terampil menggunakan teknologi dan informasi. Kemampuan yang harus dimiliki di abad 21 ini meliputi: Leadership, Digital Literacy, Communication, Emotional Intelligence, Entrepreneurship, Global Citizenship, Problem Solving, Team-working. Sedangkan tiga isu pendidikan di Indonesia saat ini adalah Pendidikan karakter, pendidikan vokasi, serta inovasi.

Saat ini harusnya Guru bangun dari tidur pulasnya akan mengajar ala kadarnya, guru harus berpikir keras agar peranan guru tetap tertanam sebagai sosok yang menjadi panutan karena peserta didik yang berkarakter akan lahir dari sosok guru yang berkarakter. Mengajarlah dengan hati. Sebuah filosofi sosok guru dimata peserta didiknya “Betapa bahagianya menjadi seorang guru yang tampil penuh kharisma dihadapan siswanya. Sosok guru yang selalu dirindukan kedatangannya, diamnya disegani, tutur katanya ditaati,  dan kepergiannya ditangisi.” 

Pendidikan adalah sebuah dunia yang lahir dari rahim kasih sayang. Pendidikan harus berlangsung dalam suasana kekeluargaan dengan pendidik sebagai orang tua dan anak didik (murid) sebagai anak. Pendidikan dilakukan dengan hati lewat ungkapan rasa kasih sayang (love), keikhlasan (sincerely), kejujuran (honesty), keagamaan (spiritual), dan suasana kekeluargaan (family atmosphere).  Guru tidak dibatasi waktu dan tempat dalam mendidik siswa, sebagaimana orang tua mendidik anaknya. Guru harus ikhlas dalam memberikan bimbingan kepada para siswanya sepanjang waktu. Demikian pula tempat pendidikannya tidak terbatas hanya di dalam ruang kelas saja, dimanapun seorang guru berada, dia harus sanggup memainkan perannya sebagai seorang pendidik yang sejati. Fenomena ini yang kini hilang dari sistem pendidikan nasional kita sekarang. Jika ini yang terjadi tekonogi secanggih apapun peranan Guru tidak akan pernah tergantikan oleh apapun itu. (*)

Komentar