oleh

Cetak Sawah Terkendala Lahan Bebatuan dan Tingginya Permintaan

SILAMPARI ONLINE,

EMPAT LAWANG – Program cetak lahan persawahan (cetak sawah) kerja sama Dinas Pertanian Kabupaten Empat Lawang dengan TNI-AD di Kecamatan Muara Pinang, saat ini masih berjalan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Empat Lawang, Ir Dadang Munandar melalui Kabid Sarana dan Prasarana (Sanpras) Pertanian, David Nugraha menyebut, ada 4 desa di Kecamatan Muara Pinang, yang menjadi lokasi program cetak sawah pada tahun anggaran 2021 ini.

“Desa Sawah, Desa Seleman Ulu, Desa Muara Pinang Lama dan Desa Talang Baru. Dengan total luasan lahan program cetak sawah sebanyak 99 hektar,” ungkap David Nugraha saat dibincangi wartawan di ruang tugasnya, Rabu (6/10).

Hingga saat ini sambung dia, pengerjaan cetak sawah, sudah selesai sekitar 40 persen dari luasan lahan yang akan dicetak sawah sebanyak 99 hektar. “Kurang lebih segitulah sekarang ini, 40 persen dari 99 hektar lahan yang akan dicetak,” imbuhnya.

Dalam pelaksanaan pekerjaan, sambung dia, pada dasarnya tidak ada persoalan yang berarti. Hanya saja, kendala para pelaksana pekerjaan di lapangan, itu terkait dengan kondisi medan lahan yang berbatuan.

“Banyak batu besar-besar kalau kendalanya di lapangan. Kemudian, banyak permintaan dari masyarakat pemilik lahan yang ingin ikut program cetak sawah, padahal total kuotanya hanya 99 hektar,” sebutnya.

Tentu saja sambung David, permintaan penambahan luasan lahan yang melebihi luasan kuota pengerjaan, belum dapat pihaknya penuhi, meski ini merupakan hal yang positif karena antusias masyarakat terhadap program cetak sawah ini dapat dinilai sangat baik.

“Makanya kita sampaikan ke masyarakat, permintaan mereka belum dapat kami penuhi, kita hanya mengerjakan daftar usulan yang masuk pertama terlebih dahulu,” ucapnya.

Dijelaskanya, lahan yang dibuka untuk cetak sawah ini, rata-rata lahan perkebunan kopi milik masyarakat. Sebelum dikerjakan oleh pihak TNI-AD selaku pihak pelaksana pekerjaan, pemilik lahan diminta membuat surat persetujuan terlebih dahulu yang intinya menyetujui lahan mereka dialihfungsikan dari perkebunan kopi menjadi lahan persawahan.

“Rata-rata kebun kopi, terutama di sepanjang aliran irigasi Lintang Kiri. Makanya, sebelum cetak sawah kita sudah membuat surat perjanjian, yang intinya masyarakat pemilik lahan setuju jika lahannya diproses alih fungsi lahan perkebunan menajadi lahan persawahan,” bebernya. (frz)

 

Komentar